Hai sobat Appayo
Nada yang tak pernah beraturan,
yang kadang lompat-lompat sesuka hati, merangkai keanehan kecil di dunia mimin— dunia yang memang nggak pernah bisa dibait ala-ala pria senja yang duduk di café sambil nulis puisi tentang kopi dan hujan. Mimin bukan tipe itu, wkwk.
Nada mimin selalu random, selalu punya ritme yang cuma mimin sendiri yang ngerti. Dan dari kekacauan kecil itu, mimin nemu satu hal yang belakangan sering muncul di kepala:
Pernah nggak sih kalian kepikiran… bahwa diri kalian sendiri itu sebenarnya teman terbaik yang kalian punya?
Teman yang selalu ada di saat kalian butuh me time, teman yang nggak pernah protes kalau kalian lagi jenuh, teman yang diam-diam nemenin kalian lewat hari yang berat, meski kalian sendiri sering lupa buat nyapa dia.
Belakangan ini, mimin lagi “berkultivasi” ala wuxian— iya, yang kayak di novel-novel itu, yang tokohnya tiba-tiba naik level tanpa bantuan sistem Korea, tanpa harus ke‑isekai gara-gara ketabrak truk kun wkwkwk.
Dan lucunya, dari semua “pencerahan” itu, yang paling kerasa justru hal sederhana: bahwa diri sendiri itu tempat pulang yang paling stabil.
Di tengah hidup yang kadang ribut, kadang sepi, kadang penuh ekspektasi, kadang penuh kekosongan, mimin sadar kalau diri sendiri selalu ada di garis depan. Dia yang pertama kali nahan air mata, dia yang pertama kali bilang “ayo bangun lagi”, dia yang pertama kali ngerti kenapa hati tiba-tiba berat.
Kadang kita sibuk cari validasi dari luar, sibuk cari pelarian, sibuk cari orang yang bisa ngerti kita. Padahal… diri kita sendiri sudah lama menunggu, diam, sabar, dan tetap ada.
Mimin jadi mikir: kenapa kita sering lupa buat bilang “terima kasih” ke diri sendiri?
Terima kasih sudah bertahan. Terima kasih sudah kuat. Terima kasih sudah mau jalan lagi meski capek. Terima kasih sudah mau bangun meski sempat jatuh. Terima kasih sudah tetap ada, meski dunia kadang terasa terlalu cepat atau terlalu pelan.
Dan di momen-momen kecil itu— di malam yang sunyi, di jalan desa yang pelan, di angin yang lewat tanpa suara— mimin merasa seperti sedang ngobrol sama diri sendiri. Bukan curhat yang berat, cuma semacam “cek kondisi” kecil: lagi baik-baik aja nggak? lagi butuh jeda nggak? lagi ingin dipeluk lewat kata-kata nggak?
Ternyata… iya. Kadang kita cuma butuh diingatkan bahwa diri sendiri pun layak dirawat.
Jadi, sobat Appayo… kalau hari ini terasa berat, atau terasa kosong, atau terasa jenuh tanpa alasan, coba duduk sebentar. Tarik napas pelan. Dengar suara hati yang mungkin sudah lama kamu cuekin.
Karena pada akhirnya, diri kita sendiri adalah teman terbaik yang paling setia. Yang nggak pernah pergi, nggak pernah marah, dan selalu siap menopang kita kembali.
Semoga kalian menemukan jeda kecil hari ini. Walau cuma beberapa menit, semoga hati terasa sedikit lebih ringan. 🌙



