oleh mimin Hello Appayo
Yo minna, apa kabar semua.
Di tengah kesibukan mimin di penghujung tahun, tiba‑tiba sadar… eh, kok 2025 sudah lewat begitu saja. Waktu memang suka jalan tanpa permisi, ya.
Banyak hal yang mimin sesali tahun ini.
Tapi banyak juga hal yang mimin lalui — terutama selama hidup di pulau kecil di pinggiran batas Jepang dan Korea ini. Tempat yang jauh dari keramaian, tapi dekat dengan pikiran‑pikiran yang suka muncul tiba‑tiba kayak notifikasi yang nggak bisa dimute.
Kadang mimin kepikiran:
“Mimin hidup buat apa sih?”
Pertanyaan yang muncul diam‑diam, biasanya pas angin laut lagi kencang atau pas mimin bengong di konbini.
Mungkin karena itu mimin suka coba banyak hal.
Kadang berguna, kadang nggak ada faedahnya sama sekali.
Niat berubah, tapi akhirnya malah jadi kayak peribahasa Jepang:
biksu tiga hari — semangat di awal, hilang di hari keempat.
Tapi ya… begitulah hidup mimin.
Banyak hal baru yang ingin dicoba, banyak rasa yang ingin dirasakan.
Sayangnya, sebagian besar masih jadi wacana — angan‑angan yang melayang seperti angin
Terasa, tapi nggak bisa digenggam.
Hanya bisa dirasakan di dalam kepala, di dalam hati, di dalam imajinasi yang mimin pelihara diam‑diam.
Tapi mungkin itu juga bagian dari perjalanan.
Bagian dari menjadi manusia.
Bagian dari menjadi mimin.
Terima kasih sudah tetap di sini, membaca fragmen‑fragmen kecil dari hidup mimin.
Semoga tahun depan kita bisa sama‑sama menggenggam sedikit lebih banyak dari angin yang lewat.
— mimin, dari pulau kecil di ujung Jepang
