Admin Absurdity - Appayo Bernada - Ini Nih - Side Appayo

☀️ Matahari Aja Punya Cerita, Masa Saya Nggak?

Hai minasan.

Pernah nggak sih kalian memperhatikan matahari saat terbit?

Setiap pagi dia datang dari arah yang sama.

Menyinari jalan yang sama.

Melihat dunia yang sama.

Tapi entah kenapa, setiap sunrise tetap terasa berbeda.

Mungkin karena matahari memang selalu punya cerita.

Kalau dipikir-pikir, masa mimin nggak punya cerita juga?

Wkwkwk.

Belakangan ini mimin sering mikir.

Bukan soal teori kehidupan yang berat sampai bikin kepala berasap.

Bukan juga soal rahasia alam semesta yang bahkan WiFi rumah belum tentu bisa menjawabnya.

Tapi soal mimin sendiri.

Semakin umur bertambah, semakin banyak hal dalam diri mimin yang berubah tanpa sadar.

Dulu mimin termasuk orang yang lumayan extrovert.

Kalau ada teman ngajak jalan, hayuk.

Ada yang ngajak ngobrol, hayuk.

Ada yang ngajak nongkrong, hayuk.

Pokoknya selama bukan ngajak bayar cicilan orang lain, biasanya hayuk aja.

Sekarang?

Baru dengar notifikasi masuk aja mimin kadang langsung mikir,

“Aduh… ini harus dibalas sekarang atau nanti aja ya?”

Wkwkwk.

Kadang lebih parah lagi.

Pesannya dibaca.

Jawabannya sudah disusun rapi di kepala.

Bahkan mimin sudah merasa membalas.

Padahal kenyataannya belum diketik sama sekali.

Lalu tiga hari kemudian baru sadar.

“Oh iya… belum dibalas.”

Kalau ada kejuaraan menunda balas chat, mungkin mimin sudah masuk semifinal.

Entah kapan perubahan itu terjadi.

Nggak ada pengumuman resmi.

Nggak ada surat edaran.

Nggak ada patch note kehidupan yang bilang:

“Selamat, Anda telah berhasil berevolusi dari extrovert menjadi introvert.”

Tahu-tahu aja sekarang mimin lebih nyaman diam.

Lebih nyaman mendengarkan daripada bicara.

Lebih nyaman menghabiskan waktu dengan pikiran sendiri.

Bukan karena membenci orang.

Bukan juga karena habis patah hati berjamaah.

Mimin cuma merasa energi mimin sekarang lebih banyak dipakai buat memahami diri sendiri.

Karena jujur aja…

sampai hari ini pun mimin masih belum tahu hidup ini mau dibawa ke mana.

Mungkin itu yang bikin mimin lebih sering diam akhir-akhir ini.

Bukan karena nggak punya cerita.

Justru karena terlalu banyak yang dipikirkan.

Kadang rasanya hidup seperti berdiri di sebuah persimpangan yang cabangnya nggak habis-habis.

Waktu kecil semuanya terasa gampang.

Kalau ditanya mau jadi apa, jawabannya cepat.

Mau jadi pilot.

Mau jadi guru.

Mau jadi dokter.

Mau jadi pendekar.

Kadang dalam seminggu cita-citanya bisa ganti tiga kali.

Tapi tetap yakin.

Sekarang?

Pilihan justru lebih banyak.

Dan anehnya, semakin banyak pilihan, semakin sulit menentukan arah.

Ada jalan yang terlihat aman.

Ada jalan yang terlihat menjanjikan.

Ada jalan yang terlihat menyenangkan.

Ada jalan yang bikin penasaran.

Ada juga jalan yang entah kenapa menarik, tapi bikin takut saat mau melangkah.

Dan mimin cuma berdiri di tengah-tengah sambil garuk kepala.

“Ini belok kanan apa lurus aja ya?”

Belum selesai mikir.

Eh muncul cabang baru lagi.

Wkwkwk.

Yang lebih membingungkan lagi, kadang mimin nggak tahu sebenarnya sedang tersesat atau memang sedang berjalan.

Karena hidup nggak punya papan petunjuk yang jelas.

Nggak ada Google Maps yang bilang,

“500 meter lagi, belok kiri menuju masa depan yang cerah.”

Nggak ada Street View yang bisa dipakai buat ngintip kehidupan lima tahun ke depan.

Nggak ada tombol save lalu load kalau salah pilih jalan.

Yang ada cuma diri sendiri.

Melangkah sedikit.

Ragu sedikit.

Berhenti sebentar.

Lalu berjalan lagi.

Kadang mimin iri sama matahari.

Dia selalu tahu harus terbit dari mana.

Selalu tahu harus bergerak ke mana.

Selalu tahu kapan waktunya tenggelam.

Sedangkan mimin…

kadang bangun pagi aja masih bingung hari ini mau ngapain.

Wkwkwk.

Tapi mungkin memang begitu hidup bekerja.

Bukan tentang mengetahui seluruh jalan sampai akhir.

Bukan tentang menemukan semua jawaban dengan cepat.

Mungkin hidup cuma meminta kita untuk terus berjalan.

Pelan nggak apa-apa.

Salah belok mungkin.

Nyasar sedikit juga mungkin.

Istirahat dulu pun boleh.

Asal jangan berhenti percaya bahwa suatu hari nanti kita akan menemukan arah yang sedang dicari.

Dan sore ini, saat melihat matahari perlahan turun di ufuk Gotō, mimin jadi sadar satu hal.

Matahari pun tidak langsung berada di puncak langit.

Dia terbit pelan.

Naik pelan.

Lalu tenggelam pelan.

Tidak terburu-buru menjadi siang.

Tidak takut menjadi senja.

Dia hanya menjalankan bagiannya, hari demi hari.

Mungkin mimin juga harus belajar seperti itu.

Nggak perlu tahu semua jawaban sekarang.

Nggak perlu memaksa diri menemukan tujuan hidup sebelum tidur malam nanti.

Karena bisa jadi, orang-orang yang terlihat paling yakin pun sebenarnya sedang mencari arah mereka masing-masing.

Bedanya, mereka tetap berjalan.

Dan mungkin…

untuk hari ini, itu juga yang akan mimin lakukan.

Besok pagi matahari akan terbit lagi di antara laut dan perbukitan kecil Gotō.

Angin akan tetap datang membawa aroma laut.

Burung-burung akan tetap memulai harinya seperti biasa.

Dan semoga…

saat matahari itu muncul lagi besok pagi,

mimin masih punya keberanian untuk melangkah satu langkah kecil berikutnya.

Karena selama matahari masih punya cerita setiap pagi,

rasanya mimin juga masih punya kesempatan untuk menulis cerita yang baru.

Meski pelan.

Meski sederhana.

Meski sampai hari ini masih sering salah belok.

Setidaknya… cerita itu masih terus berjalan. ☀️🌿

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *